Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SNMPTN ), dahulu lebih dikenal dengan UMPTN atau SMPB. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan jaman, kini persaingannya semakin ketat. Berbagai cara ditempuh siswa untuk berhasil dalam seleksi yang kompetitif tersebut.
Mulai dari membeli kumpulan soal-soal hingga mengikuti bimbingan belajar yang biayanya tak terkira hingga belasan juta rupiah. Semua itu rela dilakukan demi menyandang status sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Selain biayanya yang lebih ringan daripada PTS, di PTN juga banyak tawaran beasiswa yang akan lebih meringankan lagi biaya kuliah mahasiswa. Tak heran, banyak siswa yang terfokus untuk lulus pada seleksi ini. SNMPTN bersifat nasional dengan Pola ujian tulis dan ujian keterampilan khusus bagi program studi tertentu. Penyelenggaraan seleksi ini dilaksanakan oleh Panitia SNMPTN dan ditempatkan di kotakota strategis dimana PTN itu berada.
Penyelenggaraannya secara serentak serta terpadu, pada jam dan hari yang sama. Soalnya juga sama di seluruh PTN di Indonesia. Dengan demikian siswa dapat memilih tempat ujian terdekat dari tempat tinggalnya. Proses pengolahan hasil SNMPTN dilakukan secara terpadu di beberapa wilayah yangditentukan. Untuk itu, program studi pilihan pertama menjadi prioritas penerimaan di PTN yang dipilih. Apabila pilihan pertama sudah penuh maka pilihan jatuh pada pilihan kedua.
Demikian halnya untuk IPC, yang dapat mengisi pilihan ketiga. Penerimaan calon mahasiswa melalui seleksi ini terbatas pada daya tampung masing-masing program studi. Apabila daya tampungnya sudah terisi penuh, maka calon mahasiswa tidak dapat di terima. Perlu diketahui oleh sobat MEF, soal-soal SNMPTN berupa pilihan ganda. Dengan nilai 4 untuk setiap jawaban benar, -1 untuk setiap jawaban salah dan 0 untuk tidak menjawab. Jawaban dikerjakan di LJK (Lembar Jawab Komputer) dan dikoreksi dengan komputer. Untuk mencegah bocoran soal SNMPTN atau bocoran UM UGM, biasanya para pemuat soal dikarantina satu atau dua hari menjelang waktu pelaksanaan SNMPTN.
Nah, rencananya pelaksanaan SNMPTN tahun ini, jatuh pada tanggal 1-2 Juli 2009. Namun waktu pelaksanaan itu diperkirakan bisa berubah, mengingat saat-saat itu sangat berdekatan dengan waktu pelaksanaan Pilpres yang jatuh pada tanggal 8 Juli 2009. Berbeda dengan tes masuk perguraun tinggi lainnya, soal-soal SNMPTN biasanya lebih mudah. Namun lebih banyak, karena penambahan mata pelajaran soal IPA Terpadu maupun soal IPS Terpadu. Soal IPA Terpadu maupun soal IPS Terpadu diambil dari gabungan seluruh mata pelajaran IPA maupun IPS dan dibuat seaplikatif mungkin. Dilihat dari sejarahnya SNMPTN ini sudah banyak mengalami metamorfosis. Sudah 30 tahun lebih dunia pendidikan tinggi di Indonesia sudah teruji kemapanannya, dalam menjalani sebuah model penerimaan mahasiswa barunya.
Bahkan kerjasamanya sudah sangat sistematis antar sejumlah universitas negeri di tanah air. Untuk pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976, melalui prakarsa 4 PTN yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Airlangga (Unair). Keempatnya secara bersamaan menyelenggarakan ujian masuk bersama yang dikenal dengan Sekretariat Kerjasama Antarlima Universitas (SKALU) di lima lokasi (Jakarta, Bogor, Bandung,Yogyakarta dan Surabaya) secara serentak dengan menggunakan soal yang sama. Lantas terus berkembang hingga puluhan PTN. Model SKALU yang diperkenalkan pada tahun 1976 mengalami banyak perubahan karena masing-masing perguruan tinggi negeri kemudian mengembangkan sistem seleksi dan ujian masuk dengan cara dan kriteria sendiri.
Namun kebersamaan dalam melaksanakan penyaringan masuk perguruan tinggi tetap dilakukan dengan menyisihkan sebagian kuota penerimaan mahasiswa untuk disertakan dalam ujian masuk bersama. Pada tahun 1979, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) menyelenggarakan penerimaan mahasiswa baru melalui sistem proyek perintis 1 (PP1). PPI ini merupakan ujian tulis yang terdiri dari 10 universitas yakni lima universitas/institut melalui anggota SKALU dengan ditambah UNPAD, UNDIP, UNIBRAW, ITS dan USU. Seiring dengan berjalannya seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional, beberapa PTN, sepreti IPB, UI, ITB dan UGM menyelenggarakan sistem seleksi mandiri yang disebut proyek perintis 2 (PP2) dengan cara merekrut mahasiswa baru melalui penjaringan potensi dan bakat siswa khususnya bagi calon mahasiswa yang pintar dan berpotensi dari SMA di luar Jawa.
Sementara sebanyak 23 perguruan tinggi lainnya mengembangkan sistem penerimaan mahasiswa sistem ini dikenal dengan proyek perintis 3 (PP3), dengan memasukan soal ujian muatan lokal. Sesuai daerah dimana PTN itu berada, disamping soal ujian yang sifatnya nasional. Pada saat yang sama 10 IKIP mengembangkan sistem penerimaan mahasiswa dengan proyek perintis 4 (PP4), sistem ini melibatkan semua universitas dan institute. Lebih dikenal dengan SIPENMARU (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), yang terdiri dari dua komponen yaitu ujian tulis dan Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), yang merupakan perluasan dan penyempurnaan dari PP2. Tahun 1989 sistem PMDK secara sentral dihentikan, dan SIPENMARU diubah menjadi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri (UMPTN), sesuai dengan SK Menteri P dan K No. 0301/U/1989 bahwa secara bertahap mulai tahun akademik 1989/1999 penerimaan calon mahasiswa di PTN dilaksanakan berdasarkan ujian masuk. UMPTN menjadi sistem penerimaan mahasiswa baru yang berlaku nasional. Setiap calon mahasiswa dari seluruh Indonesia secara bebas dapat memilih universitas, yang diminati sekalipun lokasinya jauh, berbeda pulau dan wilayah.
Namun tetap berkesempatan mengikuti seleksi ujian tanpa harus datang langsung ke kota dimana universitas itu berada. Tahap pertama pelaksana UMPTN tahun akademik 1989/1999 didesentralisasikan melalui tiga rayon yakni rayon A oleh rektor UI, rayon B oleh rektor UGM dan rayon C oleh rektor Unair. Dengan UMPTN ini, 45 PTN sepakat melaksanakan seleksi penerimaan mahasiswanya dengan pola ujian tulis yang dilaksanakan serentak dan bersama-sama oleh PTN. Pada hari yang sama, jam yang sama dengan perangkat soal yang sama. Seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui model UMPTN bertujuan untuk memberi kesempatan yang sama dan tanpa ada diskriminasi bagi calon peserta dari berbagai latar belakang sosial, budaya, demografi dan geografi di Indonesia dengan tujuan pemerataan kesempatan dan persatuan bangsa. Selain itu juga memungkinkan mencegah mobilitas yang tinggi bagi calon mahasiswa, karena peserta dapat mengikuti ujian tulis di kota terdekat.
Program UMPTN memiliki kemampuan menyaring setiap peserta agar hanya diterima satu program studi pilihannya pada salah satu dari 45 universitas. Sistem seleksi sangat memperhatikan faktor keamanan dari berbagai sisi, sistem ini juga terus disempurnakan untuk menghadapi berbagai tindak kecurangan, yang mungkin dilakukan sebelum, selama dan setelah ujian tulis dilaksanakan. Hal itu mendorong munculnya SNMPTN hingga sekarang ini.
Mulai dari membeli kumpulan soal-soal hingga mengikuti bimbingan belajar yang biayanya tak terkira hingga belasan juta rupiah. Semua itu rela dilakukan demi menyandang status sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Selain biayanya yang lebih ringan daripada PTS, di PTN juga banyak tawaran beasiswa yang akan lebih meringankan lagi biaya kuliah mahasiswa. Tak heran, banyak siswa yang terfokus untuk lulus pada seleksi ini. SNMPTN bersifat nasional dengan Pola ujian tulis dan ujian keterampilan khusus bagi program studi tertentu. Penyelenggaraan seleksi ini dilaksanakan oleh Panitia SNMPTN dan ditempatkan di kotakota strategis dimana PTN itu berada.
Penyelenggaraannya secara serentak serta terpadu, pada jam dan hari yang sama. Soalnya juga sama di seluruh PTN di Indonesia. Dengan demikian siswa dapat memilih tempat ujian terdekat dari tempat tinggalnya. Proses pengolahan hasil SNMPTN dilakukan secara terpadu di beberapa wilayah yangditentukan. Untuk itu, program studi pilihan pertama menjadi prioritas penerimaan di PTN yang dipilih. Apabila pilihan pertama sudah penuh maka pilihan jatuh pada pilihan kedua.
Demikian halnya untuk IPC, yang dapat mengisi pilihan ketiga. Penerimaan calon mahasiswa melalui seleksi ini terbatas pada daya tampung masing-masing program studi. Apabila daya tampungnya sudah terisi penuh, maka calon mahasiswa tidak dapat di terima. Perlu diketahui oleh sobat MEF, soal-soal SNMPTN berupa pilihan ganda. Dengan nilai 4 untuk setiap jawaban benar, -1 untuk setiap jawaban salah dan 0 untuk tidak menjawab. Jawaban dikerjakan di LJK (Lembar Jawab Komputer) dan dikoreksi dengan komputer. Untuk mencegah bocoran soal SNMPTN atau bocoran UM UGM, biasanya para pemuat soal dikarantina satu atau dua hari menjelang waktu pelaksanaan SNMPTN.
Nah, rencananya pelaksanaan SNMPTN tahun ini, jatuh pada tanggal 1-2 Juli 2009. Namun waktu pelaksanaan itu diperkirakan bisa berubah, mengingat saat-saat itu sangat berdekatan dengan waktu pelaksanaan Pilpres yang jatuh pada tanggal 8 Juli 2009. Berbeda dengan tes masuk perguraun tinggi lainnya, soal-soal SNMPTN biasanya lebih mudah. Namun lebih banyak, karena penambahan mata pelajaran soal IPA Terpadu maupun soal IPS Terpadu. Soal IPA Terpadu maupun soal IPS Terpadu diambil dari gabungan seluruh mata pelajaran IPA maupun IPS dan dibuat seaplikatif mungkin. Dilihat dari sejarahnya SNMPTN ini sudah banyak mengalami metamorfosis. Sudah 30 tahun lebih dunia pendidikan tinggi di Indonesia sudah teruji kemapanannya, dalam menjalani sebuah model penerimaan mahasiswa barunya.
Bahkan kerjasamanya sudah sangat sistematis antar sejumlah universitas negeri di tanah air. Untuk pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976, melalui prakarsa 4 PTN yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Airlangga (Unair). Keempatnya secara bersamaan menyelenggarakan ujian masuk bersama yang dikenal dengan Sekretariat Kerjasama Antarlima Universitas (SKALU) di lima lokasi (Jakarta, Bogor, Bandung,Yogyakarta dan Surabaya) secara serentak dengan menggunakan soal yang sama. Lantas terus berkembang hingga puluhan PTN. Model SKALU yang diperkenalkan pada tahun 1976 mengalami banyak perubahan karena masing-masing perguruan tinggi negeri kemudian mengembangkan sistem seleksi dan ujian masuk dengan cara dan kriteria sendiri.
Namun kebersamaan dalam melaksanakan penyaringan masuk perguruan tinggi tetap dilakukan dengan menyisihkan sebagian kuota penerimaan mahasiswa untuk disertakan dalam ujian masuk bersama. Pada tahun 1979, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) menyelenggarakan penerimaan mahasiswa baru melalui sistem proyek perintis 1 (PP1). PPI ini merupakan ujian tulis yang terdiri dari 10 universitas yakni lima universitas/institut melalui anggota SKALU dengan ditambah UNPAD, UNDIP, UNIBRAW, ITS dan USU. Seiring dengan berjalannya seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional, beberapa PTN, sepreti IPB, UI, ITB dan UGM menyelenggarakan sistem seleksi mandiri yang disebut proyek perintis 2 (PP2) dengan cara merekrut mahasiswa baru melalui penjaringan potensi dan bakat siswa khususnya bagi calon mahasiswa yang pintar dan berpotensi dari SMA di luar Jawa.
Sementara sebanyak 23 perguruan tinggi lainnya mengembangkan sistem penerimaan mahasiswa sistem ini dikenal dengan proyek perintis 3 (PP3), dengan memasukan soal ujian muatan lokal. Sesuai daerah dimana PTN itu berada, disamping soal ujian yang sifatnya nasional. Pada saat yang sama 10 IKIP mengembangkan sistem penerimaan mahasiswa dengan proyek perintis 4 (PP4), sistem ini melibatkan semua universitas dan institute. Lebih dikenal dengan SIPENMARU (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), yang terdiri dari dua komponen yaitu ujian tulis dan Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), yang merupakan perluasan dan penyempurnaan dari PP2. Tahun 1989 sistem PMDK secara sentral dihentikan, dan SIPENMARU diubah menjadi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri (UMPTN), sesuai dengan SK Menteri P dan K No. 0301/U/1989 bahwa secara bertahap mulai tahun akademik 1989/1999 penerimaan calon mahasiswa di PTN dilaksanakan berdasarkan ujian masuk. UMPTN menjadi sistem penerimaan mahasiswa baru yang berlaku nasional. Setiap calon mahasiswa dari seluruh Indonesia secara bebas dapat memilih universitas, yang diminati sekalipun lokasinya jauh, berbeda pulau dan wilayah.
Namun tetap berkesempatan mengikuti seleksi ujian tanpa harus datang langsung ke kota dimana universitas itu berada. Tahap pertama pelaksana UMPTN tahun akademik 1989/1999 didesentralisasikan melalui tiga rayon yakni rayon A oleh rektor UI, rayon B oleh rektor UGM dan rayon C oleh rektor Unair. Dengan UMPTN ini, 45 PTN sepakat melaksanakan seleksi penerimaan mahasiswanya dengan pola ujian tulis yang dilaksanakan serentak dan bersama-sama oleh PTN. Pada hari yang sama, jam yang sama dengan perangkat soal yang sama. Seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui model UMPTN bertujuan untuk memberi kesempatan yang sama dan tanpa ada diskriminasi bagi calon peserta dari berbagai latar belakang sosial, budaya, demografi dan geografi di Indonesia dengan tujuan pemerataan kesempatan dan persatuan bangsa. Selain itu juga memungkinkan mencegah mobilitas yang tinggi bagi calon mahasiswa, karena peserta dapat mengikuti ujian tulis di kota terdekat.
Program UMPTN memiliki kemampuan menyaring setiap peserta agar hanya diterima satu program studi pilihannya pada salah satu dari 45 universitas. Sistem seleksi sangat memperhatikan faktor keamanan dari berbagai sisi, sistem ini juga terus disempurnakan untuk menghadapi berbagai tindak kecurangan, yang mungkin dilakukan sebelum, selama dan setelah ujian tulis dilaksanakan. Hal itu mendorong munculnya SNMPTN hingga sekarang ini.




Tidak ada komentar:
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.