Wujudkan Impian Ke Pulau Dewata


     Hai sobat MEF, kita baru saja melancong ke Pulau Dewata Bali, loh. Pokoknya sip deh, kita disana kurang lebih empat hari lamanya, mulai hari Jumat s.d. Selasa (10- 14/4) lalu. Ini merupakan salah satu Program kerja osis SMA Negeri 3 Purworejo (SMANTI) tahun 2009. Diikuti oleh 104 siswa yang terdiri atas sebagian siswa kelas XI, baik IPA maupun IPS.

     Kita di sana tidak hanya sekedar berwisata dan melancong hura-hura, tetapi juga mengadakan studi banding untuk menumbuhkan rasa cinta budaya dalam negeri dan belajar banyak hal. Selama di sana kita tidak sendirian, kita juga dikawal tuh sama 8 pembimbing, yang terdiri atas M Suyudi, S.Pd, Anas Padri, S.Pd, Dra. Ratri Handayani, Dra. Arminingsih, Supriyanto, S.Pd, Djamila, S.Pd, FX Ngatijo, Drs. Pamudji dan Drs. Prawoto. Kalau boleh terus terang saking antusiasnya, malamnya kita tidak bisa tidur, (banyak nyamuk ya….). Habis berangkatnya harus pagi-pagi sekali, pukul 06.30 WIB sudah harus berangkat. Dua buah bus wisata bergambar gajah, siap menghantarkan kami menuju surga dunia (hehehe... asyik euy). Kami pun melangkah menuju bus dengan riang gembira.

     Sejenak didalam bus, kami mendapat bekal dari Dra. Sri Sujarotun selaku Kepsek SMANTI. Beliau menghimbau agar siswa-siswinya menjaga etika dalam berpakaian serta dapat menghargai budaya yang ada disana. Selanjutnya kami berdoa bersama agar senantiasa mendapat Wujudkan Impian Ke Pulau Dewata perlindungan dari Tuhan YME yang dipimpin oleh Pak Ramelan selaku Top Leader. Tak terasa pukul 23.55 WIB kami mulai menyebrangi Selat Bali dari Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur dengan kapal Ferry, kurang lebih 1 jam perjalanan. Nah baru pukul 02.00 WITA, kami tiba di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Katanya 1 jam perjalanan, kok jam 02.00 WITA sampai di sana? Ingat Bali kan termasuk ke wilayah Waktu Indonesia Tengah, yang memiliki selisih waktu lebih cepat 1 jam dari Waktu Indonesia Barat. Bus terus melaju menuju ke obyek pertama, yaitu Tanah Lod. Kami tiba pukul 04.00 WITA, wah hampir subuh. Sejenak melepas lelah, kami berjalanjalan sembari menunggu waktu shalat subuh tiba. Kami menikmati indahnya matahari terbit dari ufuk timur, wah sangat mempesona. Di sini terdapat sebuah Pura Tanah Lod, yang digunakan sebagai tempat sembahyang bagi umat Hindu. Konon katanya di sini ada dua buah ular besar ( Alan bangeet…).

      Menurut kepercayaan penduduk setempat, apabila seseorang dapat meraba tubuhnya apa yang diinginkan niscaya dikabulkan. Namun, itu semua tergantung dengan kepercayaan kita masingmasing. Perjalanan dilanjutkan ke obyek berikutnya, yaitu Tanjung Benoa, yang tengah dipadati para wisatawan. Aneka ragam water sport dapat kami nikmati di sini, mulai dari banana boat, parasiling, flying fish, diving, jet sky, fishing sampai melihat-lihat penangkaran penyu. Belum puas rasanya di Tanjung Benoa, baru 1 jam. Namun kami harus melanjutkan perjalanan menuju obyek wisata selanjutnya Garuda Wisnu Kencana (GWK). GWK merupakan sebuah patung besar yang pada saat ini bagianbagiannya masih terpisah karenaSehingga sampai saat ini kebajikan belum dapat ditegakkan dan kebatilan masih merajalela. Karena dipercaya penyatuan patung raksasa itu akan membawa kebajikan menjadi pemenang dalam melawan kebatilan. After that kami beranjak ke jogger. Joger merupakan satu satunya pabrik kata-kata yang hanya ada di Pulau Dewata. So buanyaak beunget wisatawan lokal maupun manca yang berkunjung di sini.

      Beraneka T-shirt membayangi bola mata kami, dari ukuran S sampai ukuran super zuper jumbo alias triple XL... Tidak hanya baju saja lho, tapi juga ada sandal, tas maupun souvenir. Dijamin kualitasnya ciamik… tapi jangan kaget kalo kantong kalian cepat terkuras habis, pokoknya tinggal mengukur tebal kanthong kita. Tak terasa waktu pun beranjak petang, kami menuju Kuta Beach. Rencananya kami ingin menikmati sunset but… berhubung cuaca tidak bersahabat acarapu n gatot alias gagal total. Sehingga kami hanya menikmati hempasan ombak yang tak kalah seru dengan sunset.

        Hari berikutnya, kami mengunjungi Kerajinan kain Bali (Galuh). Di Galuh terdapat banyak kerajinan yang bisa dijadikan sebagai oleh-oleh. Tak lupa kita menyaksikan tari khas bali Tari Barong, yang merupakan penggambaran pertarungan antara “Kebajikan” melawan “Kebatilan.” Barong adalah makhluk mithologi melukiskan “Kebajikan” dan Rangga adalah yang maha dasyat menggambarkan “Kebatilan.” Tari barong digelar setiap hari pada pukul 08.30-09.30 WITA.

          Then, kami ke Home Industri Cahayu (HIC). HIC merupakan pusat oleh-oleh makanan khas Bali, yang didirikan oleh seorang pengusaha bernama Robani. Ia berjuang dengan memulai usahanya dari nol. Beliau mendirikan Cahayu pada 27 September 2002. Tujuannya membuka usaha pusat oleh-oleh khas bali ini khususnya untuk melayani wisatawan Nusantara maupun Mancanegara yang berkunjung ke Bali. Kami di sana mendapatkan beberapa tips untuk meraih kesuksesan dari beliau, lho. Maka tibalah saatnya, kami ke Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Dimana di dalamnya terdapat miniatur kehidupan rakyat Bali, mulai dari masa berburu dan mengumpulkan makanan pada tahun 3000 SM, hingga perjuangan rakyat-rakyat Bali di masa revolusi. Tak terasa saatnya membelanjakan uang sakupun tiba. Kami berbelanja di Pasar Sukowati. Di sini pembeli harus pandai-pandai menawar. Kalau tidak, pembeli akan dirugikan. Sebab harganya bisa lebih mahal dari harga sesungguhnya. Sukowati menyediakan beragam souvenir, baju, tas, dan sebagainya. Inginnya si menikmati sunset di Sanur. Tapi ternyata Sanur tu terlelak di sebelah timur so… kalau kita mau menikmati sunrise baru bisa. Di lain hal sanur tetap mengasyikkan kok, semakin sore semakin bejibun dech pengunjungnya.

       This is the last holiday. Sangeh dan Danau Bedugul is objek terakhir kami. Sangeh merupakan hutan yang di dalamnya hidup beribu-ribu kera, terdapat pula pohon yang menggambarkan alat kelamin lakilaki dan alat kelamin perempuan sehingga akrab disebut “Pohon Lanang Wadon.” Hati-hati ya, kera di Sangeh itu sensitif sekali terhadap wanita yang baru menstruasi, kalau nekat masuk, siap-siap saja dikeroyok dan digigit ribuan kera. Dari Sangeh kita ke Bedugul, uih duingin. Peserta cukup terbius oleh nuansa indah Danau Bedugul, yang begitu sejuk karena berada pada ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Peserta juga merasakan kuliner di Rumah makan vila Air. Di tempat ini banyak pula yang menjual buah-buahan seperti sawo manila, strawberry, anggur, salak bali, markisa, terdapat pula dodol iwel serta beragam souvenir yang unik. Tak terasa waktu di Bali sudah habis.

     Kami meninggalkan Pulau yang diakui keindahannya oleh berbagai kalangan pada pukul 13.00 WITA. Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, but tetap menyenangkan, bus tiba di Smanti kembali pukul 08.00 WIB pada hari Selasa (14/4). Puas Deh.
Tags:

Media Edukasi Fokus

Unit kegiatan ekstrakurikuler Jurnalistik SMA Negeri 3 Purworejo (SMA N 1 Purwodadi / SMA Keduren / Kampus Turi).

Tidak ada komentar:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.