Pagi itu Nadia tampak lebih bersemangat dari pagi-pagi biasanya. Karena siang itu ia akan membawa teman sekolahnya ketempat dimana ia biasa mengajar. Hari itu Maya menjanjikan akan membawakan baju, alat tulis, buku bacaan, dan sedikit uang untuk jajan anak-anak di sana. Dalam benaknya anak-anak itu pasti akan senang, mengingat ekspresi mereka ketika ia membawa berita. Nadia mendapat kesenangan batin ketika mampu membahagiakan anak didiknya, apalagi jika janji Maya ditepati. Dengan semangat ia mulai meloncati kubangan air dari batu satu ke batu yang lain hingga akhirnya ia berjalan 1 km menuju sekolahnya.
“May.....kamu jadi ke tempat anak-anak itu kan? Mereka udah nggak sabar lho nerima bantuan kamu. Mereka seneng banget waktu aku bawa berita itu.” Kata Nadia semanat.
“Aduh gimana ya Nad, Bukan aku nggak mau nepati janji. Jujur sekarang nggak bisa, nenekku sakit dan aku mungkin akan merawatnya selama 1 minngu. Skali lagi maaf ya?? Dan soal barang-barang itu aku belum sempat mengemas, mungkin lain waktu saja ya??” tutur Maya.
Mendengar pernyataan Maya, Nadia merasa kecewa. Semangat yang tadi tumbuh sirna sudah.
“Oh nggak apa-apa kok, aku mengerti keadaanmu.” Jawab Nadia menutupi
kekecewaannya.
Ia pulang tanpa membawa apapun yang dijanjikan pada anak-anak lugu itu. Ia tak mampu membayangkan perasaan kecewa mereka. Nadia ingin membelikan mereka apa yang akan diberikan Maya. Tapi untuk sekolah saja ia mendapat beasiswa siswa berprestasi. Sedang keluarganya tak ada yang daharapkan selain ketentraman batin dan kenyamanan hidup di lingkungan yang sama sekali tak nyaman.
“Mana oleh-olehnya Kak? Katanya mau bawa baju sama buku. Kakak bohong ya??” Tanya salah satu anak didik Nadia ketika ia sampai gubuk tempatnya mengajar.
“oh......tadi teman kakak itu nggak jadi...nggak bisa maksudnya. Kan teman kakak lagi kena musibah. Neneknya sedang sakit, mungkin 1 minggu lagi. Sabar ya...”
Berulang-ulang Nadia menjelaskan keadaan yang sedang terjadi, namun mereka tak mau mendengarkannya. Mereka terlalu asyik dengan kekecewaan dan kemarahan. Akhirnya Nadia meniggalkan mereka dalam kebingungan karena ia tak tahu lagi harus mengatakan apa pada mereka.
Pagi hari ia berangkat ke sekolah tanpa semangat. Biasanya ia mendapatkan sapaan hangat dari anak-anak itu. Tapi pagi itu mereka begitu dingin. Diantara rumah-rumah yang berjarak sempit ia berjalan melewati jalan yang berkubang. Tanpa diiringi langkah-langkah kecil yang senantiasa mengantarnya keluar Gang.
Di sekolah ia tak dapat berkonsentrasi. Bayang-bayang mereka selalu muncul dalam pikirannya. Dari dulu ia bercita-cita menjadi guru dan, dan cita-citanya ia rintis dengan jalan mengajari anak-anak di pemukiman kumuh tempat tinggalnya. Yang termudah yaitu dengan mengajarkan angka 1, 2, 3, 4, dan seterusnya atau abjad mulai A sampai Z, Meski ia tidak mampu bersekolah, tapi Nadia menginginkan setidaknya mereka memiliki sedikit ilmu untuk bekal masa depan.
Pelajaran usai, tiba saatnya Nadia pulang dan melanjutkan kegiatannya bersama anak-anak didiknya. Ia berjalan melewati ruang TU. Tak sengaja ia melihat gulungan kertas karton dan beberapa bolpen di atas meja TU. Terlintas bayangan anak-anak yang sedang menulis di atas kertas karton sebagai papan tulisnya. Tanpa pikir panjang Nadia mengambil gulunan karton dan beberapa bolpen tanpa pengetahuan siapapun.
Sepulangnya ia bergegas menuju gubuk bersama barang yang telah diambilnya dari sekolah. Kali ini anak-anak menyambutnya dengan senang. Mereka belajar lagi tanpa kekecewaan yang pernah terukir.
Nadia merasakan bahagia ketika melihat mereka tersenyum, namun ia kembali merenung ketika teringat tindakannya tadi siang.
“apakah aku salah??aku telah mencuri untuk mereka, tapi biar saja, toh aku
mencuri untuk kebaikan, daripada disana tidak dipakai.” Tuturnya dalam hati
“Kak, katanya kakak mau membawakan buku cerita? Mana?”tutur seorang anak didiknya
“emm....bess...sok..!! kalau sudah ada uang.” Nadia menjawab denagn ragu
Nadia hanya mampu mengangguk tanpa tahu apa yang harus ia lakukan lagi untuk mendapatkan semua itu. Dengan meminta bantuan atau dengan mencuri lagi? Menurutnya mencuri adalah jalan terbaik untuk mengabulkan permintaan anak-anak. Karena Nadia berpikir takkan ada yang membantunya lagi.
Di kelas sangatlah sepi,Nadia berjalan menuju sebuah tas dari teman kelasnya yang terkenal kaya. Ketika ia mendapatkan uang senilai 100 ribu tiba-tiba.
“Hei... Maling..!! Nadia kamu mau ambil uangku ya?? Dasar miskin, Sini ikut aku menghadap BK..!!” diseretlah Nadia menuju BK
“Kenapa kamu mencuri Nad? Bukankah kamu anak yang baik? Ada apa sebenarnya yang sedang terjadi dirimu? Katakan saja.” Tutur guru BK
Kemudian Nadia mulai menceritakan apa yang sedang dialaminya, Ia juga menceritakan gulungan kertas karton dan beberapa bolpoin yang telah dicurinya itu.
“Sekarang ibu mengerti . Ibu rasa tujuan kamu untuk menyenangkan anak-anak itu tidak salah hanya caramu yang salah. Seharusnya kamu bilang saja pada pihak sekolah, bukankah sekolah ini milik yayasan? Mungkin yayasan akan membantu mereka. Ibu akan berkonsultasi pada pimpinan yayasan, kamu jangan mengulangnya lagi ya??” Terang guru BK
Rasa bersalah dan rasa bahagia muncul dalam hatinya, Merasa bersalah karena tindakan mencurinya dan rasa bahagia karena kejujurannya yang malah membantunya mendapatkan apa yang selama ini diinginkan. Ia tak tahu kenapa hatinya ingin selalu melihat anak-anak didiknya bahagia, mungkin karena naluri berbagi yang begitu besar.
“Tuw gubug kita bisa jadi sekolah kan?? Ada meja sama kursinya dan ada papan tulisnya..!!”
“Hooooreeeee....!!!” Sorak lugu para murid sekolah gubuk yang kini telah bertambah fasilitas karena mendapat bantuan oleh yayasan sekolah Nadia.
Biar tidak hanya mereka yana merasakan indahnya sekolah, tetapi juga anak-anak itu. Meskipun dengan fasilitas yang seadanya, tapi biarlah secerca cahaya menerangi hati dan pikiran mereka.





Tidak ada komentar:
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.