Paradigma Dunia Pendidikan

     Rasanya deg-degan juga ya, ketika tim reporter MEF ingin Rmewawancarai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Drs. Bambang Aryawan, MM. Maklum, ini adalah tugas pertama MEF untuk mewanwancarai pejabat penting. Tapi,setelah MEF bertemu langsung dengan beliau, MEF jadi hilang groginya.
     Ternyata orangnya baik sekali, ramah dan senang menyambut kedatangan kami. Tak begitu lama kami sudah akrab dan terlibat wawancara serius di dalam ruang kerjanya. Nah, inilah hasil wawancara reporter MEF, Rohani Rahayu, Rr. Febriyanti NW dan Ratna Irawati untuk pembaca MEF tercinta.
  • Sebelum jauh membahas tentang program pendidikan, kami ingin mengetahui biografi Bapak?
Boleh, saya lahir di Desa Panungkulan, Kecamatan Gebang, Purworejo tanggal 4 Oktober 1960. Saya tidak mengikuti pendidikan pra sekolah Taman Kanak-kanak (TK), karena di desa saya waktu itu tidak ada TK. Sehingga langsung duduk di bangku SD Negeri Penungkulan (1972), kemudian melanjutkan ke SMP Bhakti Karya Bener (1975) dan SMA Pancasila (1979). Lulus SMA, melanjutkan study ke IKIP Semarang jurusan kimia. Saya menyelesaikan jenjang pendidikan S2, di UNSOED Purwokerto jurusan management.

  • Bagaimana perjalanan karier Bapak, sebelum akhirnya duduksebagai orang nomor satu di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo?
Perjalanan karier saya, dimulaidari melaksanakan tugas GTT di berbagai sekolah, antara lain MAN Purworejo, SMA Negeri 3 Purworejo, SMA Bhakti Karya (Bener) dan SMA NU (Loano). Saya setiap sore juga mengajar di Primagama. Nah, tanggal 1 Maret 1986 adalah hari yang sangat bersejarah bagi saya, karena pada hari itu saya diangkat menjadi guru PNS. Pada tahun 2000 saya mengikuti seleksi guru berprestasi. Alhamdulillah, saya berhasil meraih juara pertama, baik di tingkat kabupaten maupun propinsi. Lantas saya dipercaya untuk mengemban tugas sebagai kepala sekolah di SMA Negeri 5 Purworejo (2001-2004). Sampai beralih ke SMA Negeri 7 Purworejo hingga tahun 2006. Baru pada tahun 2007 lalu saya dimutasi ke Dinas Pendidikan sebagai Kepala Bidang Persekolahan dan dipercaya untuk mengisi kekosongan Kepala Dinas Pendidikan setelah pejabat lama Bapak Drs. Ro'is memasuki masa pensiun. Hingga akhirnya didefinitifkan pada tahun 2008 lalu.

  • Bagaimana pandangan Bapak tentang dunia pendidikan sekarang ini?
Saya melihat dunia pendidikan ini sedang mengalami perubahan paradigma yang luar biasa, belum lagi adanya otonomi sekolah. Dari perubahan paradigma ini, banyak bermunculan pemikiran baru, dengan program yang lebih relevan dengan kondisi sekolah yang bersangkutan. Karena programnya dibuat oleh sekolah itu sendiri. Sehingga otonomi sekolah ini, turut memacu sekolah untuk lebih cepat maju

  • Lantas bagaimana dengan program-program pendidikan yang dilaksanakan di Purworejo?
Program yang kami jalankan adalah, pertama, perluasan dan pemerataan akses. Semua anak harus sekolah, sehingga tidak ada anak yang tidak sekolah, meski dengan dal ih apapun. APK pendidikan dasar di Kabupaten Purworejo, 96 % sudah tuntas paripurna. Kedua, transparansi di sekolah harus matang. Nah, dalam menyerap ilmu harus dilandasi dengan rasa kasih sayang, agar anak tidak hanya pintar, akan tetapi juga beriman dan bertaqwa serta berkepribadian baik. Kemudian peningkatan mutu dan relevansi. Sekolah yang baru memenuhi standar pelayanan minimal (SPM), masuk kategorisekolah potensial. Dari sekolah potensial ditingkatkan menjadi SSN/SKM dan selanjutnya sekolah SSN ditingkatkan lagi menuju RSBI atau menjadi sekolah berkeunggulan lokal.



  • Maaf, sekolah itu sebenarnya dapat dikelompokkan seperti apa sih?

Sekolah itu ada tiga kelompok, pertama sekolah potensial (sekolah yang disuntik program, sarana dan prasarananya, agar menjadi sekolah standar nasional dan unggul). Kedua sekolah yang hampir memenuhi 8 standar pendidikan sekolah standart nasional (SSN), lalu yang terakhir sekolah berkeunggulan lokal dan sekolah bertaraf internasional.

  • Bagaimana dengan tenaga pendidiknya?
Untuk program peningkatan mutu dan relevansi guru-guru, maka guru harus berpendidikan minimal lulus S1. Ini yang harus selesai hingga tahun 2014. Selain itu seorang guru juga harus menguasai 4 kompetensi dalam dirinya, professional, social, pedagogic dan berkepribadian.

  • Masih adakah penunjang lain untuk meningkatkan mutu pendidikan?
Selain itu, sarana sekolah juga harus dibenahi. Semua sarana yang ada di sekolah harus diperhatikan. Sekolah-sekolah potensial disuntik dengan program agar mampu menjadi sekolah standar nasional (SSN), sekolah-sekolah yang sudah memenuhi syarat SSN disuntik program lagi agar mampu menjadi sekolah bertaraf internasional. Bekerjasama dengan sekolah internasional. Tukar menukar guru untuk mensejajarkan diri dengan negara lain. Penyelenggaraan sekolah inklusi. Pengadaan kelas akselerasi agar peningkatan mutu pendidikan di Purworejo lebih tinggi lagi. Pengadaan sekolah-sekolah berpotensi, wawasan khusus. Misalnya sekolah berwawasan olahraga SMP Negeri 33 Purworejo dan SMA Negeri 6 Purworejo, sekolah berwawasan seni SMA Negeri 3 Purworejo dan SMP Negeri 17 Purworejo, sekolah RSBI SMP Negeri 2 Purworejo, SMP Negeri 3 Purworejo, SMA Negeri 1 Purworejo, SMA Negeri 7 Purworejo dan SMK Negeri 1 Purworejo.



  • Bagaimana dengan lulusan SLTA saat ini?

SLTA mayoritas anaknya harus melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Dari data yang diperoleh, tidak lebih dari 40% anak SLTA, yang melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan untuk anak SMK, selain dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, juga bisa langsung bekerja. Bahkan mampu membuat usaha sendiri (berwirausaha) dengan ketrampilan yang di dapat dari sekolah.

  • Bagaimana tindakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo mengenai gencarnya program pusat untuk memperbanyak SMK?
Kabupaten harus diubah menjadi kabupaten vokasi (kabupaten yang jumlah sekolah kejuruannya lebih banyak bila dibandingkan dengan sekolah umum). Direncanakan padat tahun 2010-2014,dengan prosentase SMK 70% dan SMU 30%. Hal ini dilakukan, karena dari data yang ada menunjukkan, bahwa anak-anak lulusan SMK bisa langsung kerja dan tak sedikit juga yang mampu membuka lapangan pekerjaan.

Menyimpang dari program pendidikan. Apa pengalaman paling berkesan di hati Bapak selama ini?
Saya tinggal di padesaan, karena itu saya akrab dengan kehidupan gotong royong. Hal yang sudah biasa, kalau setiap Minggu saya dapat melakukan kerja bakti dan berbaur dengan masyarakat desa. Kemudian, saat saya menjadi panitia ulangan umum di SMA Negeri 3 Purworejo. Tiba-tiba saja, panitia yang ditugaskan mengikuti study tour ke Bali berhalangan. Saya diminta menggatikannya. Nah, pada saat itu ada anak yang sakit, namun tetap memaksa ikut dengan dalih dia merasa kuat. Tapi sesampainya di pelabuhan Gilimanuk, kesehatan anak tersebut menurun drastis, hingga saya harus membawanya kerumah sakit. Saya memutuskan agar anak yang sehat melanjutkan study tournya dan saya lebih memilih untuk menemani anak tersebut di rumah sakit. Tetapi setelah study tour berakhir anak tersebut belum kunjung sembuh. Dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan membawa pulang anak tersebut bersama seorang dokter. Setelah shalat magrib, saya baru ingat kalau Pak Pamudji (guru olahraga di SMA Negeri 3 Purworejo) memiliki saudara dokter di sana. Nah, Dokter itulah yang diminta untuk membawa anak yang sakit pulang ke Jawa. Sayangnya setelah empat bulan, anak tersebut meninggal dunia. Lantas pada saat di SMA Negeri 5 Purworejo (Loano), juga ada kejadian memilukan yang tak akan pernah saya lupakan. Pagi itu adalah
saatnya ujian praktek olahraga, seorang anak jatuh pingsan. Saya bergegas membawa anak tersebut ke Puskesmas. Malang, anak itu tidak dapat diselamatkan. Melaksanakan segala sesuatu itu harus dilandasi rasa ikhlas, sesuai dengan peraturan yang berlaku dan selalu berserah diri pada sang pencipta

  • Ini yang terakhir Pak, apa pesan Bapak kepada para pembaca MEF?
Pertama, jika ingin tampil hebat kita harus punya mimpi. Selain itu kita harus punya cara agar kita dapat berbuat lebih banyak daripada orang lain dalam waktu yang sama. Kedua, budayakan membaca. Karena dari membaca kita akan peka menganalisis dan pintar menulis. Dari budaya membaca juga kita akan menjadi pembaca yang baik dan dapat mencermati komunikasi. Ketiga, jika kita merasa kurang terhadap sesuatu hal, bergabunglah dengan orang lain yang berpikiran lebih maju dan ilmunya lebih banyak dari kita. Keempat, sering bicara dengan orang yang lebih hebat dalam beberapa hal. Karena tidak mungkin seseorang hebat dalam segala hal. Kelima, hidup tidak hanya dari otak tapi juga dari ketrampilan. Keenam, cari potensi dari dalam diri dan kembangkan potensi tersebut semaksimal mungkin. Ketujuh, bingung tidak menguntungkan. Santun akan lebih menguntungkan. Kedelapan, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kesembilan, keberhasilan hidup hanya ditentukan dari IQ sebesar 20%, lainnya di tentukan oleh ketrampilan komunikasi atau multi intelegensi.
Tags:

Media Edukasi Fokus

Unit kegiatan ekstrakurikuler Jurnalistik SMA Negeri 3 Purworejo (SMA N 1 Purwodadi / SMA Keduren / Kampus Turi).

Tidak ada komentar:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.