PEMKAB PURWOREJO SUKSES MENJALANKAN ROADTEST BIODIESEL NYAMPLUNG
TERNYATA LEBIH IRIT DIBANDINGKAN DENGAN SOLAR
![]() |
| gambar : istimewa |
Pemkab Purworejo, Jawa Tengah, akhir-akhir ini sering sekali mengembangkan tanaman Nyampulng (calophyllum inophyllum). Tidak tanggung-tanggung tempat untuk mengembangkannya sampai ratusan hektar. Hal itu di jalankan karena, buahnya bisa jadi sumber energy alternative pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) solar.Sampai modal mesin bantuan dari Kementerian kehutanan tahun 2009, Pemkab Purworejo sekarang bisa memproduksi sendiri minyak biodiesel nyampulng di desa Patutrejo,Kecamatan Grabag. Sebulannya ditarget harus bisa menghasilkan 6 ribu liter minyak biodiesel nyamplung siap pakai. Karena untuk memperkenalkan produksinya tadi, belum lama ini, minyak biodiesel nyampulng hasil olahannya, dicoba jadi bahan bakar mobil diesel jumlah 7, jalan memutari Jawa Tengah dan DIY. kegiatannya di berinama “Road Test Biodiesel Nyamplung Jateng & DIY.” Tidak main-main road test itu dipimpin langsung oleh Bupati Purworejo Drs. H. Mahsun Zain, M.Ag, dan sukses menempuh rute sejauh 750 kilometer.
Rutenya dimulai dari Purworejo-Kebumen-Cilacap-Banyumas-Purbalingga-Banjarnegara-Temanggung-Semarang. Sampai Semarang rombongan disambut oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Road test dilanjutkan dari Semarang , jalan ke Yogyakarta sampai mengambil rute, Salatiga-Surakarta-Klaten-Yogyakarta-Gunung Kidul-Bantul-Kulonprogo-Purworejo. Setelah sampai Yogyakarta , rombongan disambut olehGubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Kepada JB, Mahsun berkata bahwa biodiesel nyamplung lebih irit dari pada solar. “Biasanya mobil yang saya pakai 1 : 10 (setiap1 liter solar bisa terpakai 10 kilometer-red), setelah dicoba menggunakan bahan bakar minyak biodiesel nyamplung ternyata bisa 1 : 12 (setiap 1 liter minyak biodiesel nyamplung bisa terpakai 12 kilometer-red). Saa lebih praktis, sebab menurut panitianya tidak menggerakan mesin. Jadi mesin tetap standar pabrik, langsung bisa dipakai bahan bakar minyak biodiesel nyamplungMinyak biodiesel nyamplung juga ramah lingkungan,” Jelas Mahsun. “selebihnya kegiatan ini untuk memperkenalkan biodiesel nyamplung kepada masyarakat, juga bisa untuk sumber energy alternative yang menghilangkan rasa kawatir manusia karena semakin menipisnya kandungan minyak dan Gas bumi dialam dunia ini. Mengingat menurut para ahli, kandungan minyak Bumi hanya bisa bertahan sampai 18 tahun kedepan dan gas Bumi hanya bisa tahan sampai besok 55 tahun kedepan.
Lebih jauh Mahsun menerangkan, pada saat ini Purworejo masih menguji coba produksi biodiesel nyamplung dan hasilnya belum dijual dipasaran umum. Enam bulan kedepan ini hasil produksinya bakal dibeli oleh Puslitbang Kementerian Kehutanan. Dan bisa dijual kepada perusahaan-perusahaan di Purworejo setelah produksi lebih dari 6 bulan. Memang harga biodiesel nyamplung lebih tinggi dibandingkan oleh solar produksi Pertamina. Ini disebabkan minyak biodiesel nyamplung termasuk BBM nonsubsidi. “Maka orientasinya dijual kepada perusahaan-perusahaan bukan masyarakat umum,” katanya. “Semoga selaras dengan jalannya waktu bisa menjual dibawahnya harga Pertamina. nantinyaperusahaan-perusahaan di Purworejo diwajibake memakai minyak biodiesel nyamplung produksi Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag,” imbuhnya.
Secara teknis, Kepala Bidang Kehutanan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purworejo Argo Prasetyo menjelaskan, Purworejo menargetkan dapat memproduksi minyak biodiesel nyamplung 6 ribu liter setiap bulannya. Kita optimis target itu tadi bakal bisa dilaksanakan dari hasil panen buah nyamplung yang luasnya 100 hektar. Lahan seluas itu berada pada hutan milik Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan. Bukan hanya itu, stok lainnya kurang lebih masih ada 50 hektar yang berupa tanamanpohon nyamplung yang ditanam di lahan hutan milik rakyat. Lebih rinci lagi bisa dihitung kurang lebih ada 130 ribu pohon nyamplung yang sekarang ada di wilayah Kabupaten Purworejo.
“Supaya prodhksi benar-benar bisa optimal dan target bisa tercapai, Pemkab Purworejo tidak hanya diam saja. Tapi lewat beberapa program terus menambah areal perkebunan nyamplung,” ujar Argo.
Dijelaskan oleh Argo, setiap satu pohon nyamplung, baru bisa berbuah setelah umur 7 tahun. Umur-umur segitu baru bisa menghasilkan12 kilogram minyak nyamplung. Bakal banyak lagi kalau pohon nyamplung itu tadi sudah sampai umur 10 tahun keatas, paling tidak setiap pohon bisa menghasilkan 100 kilogram minyak nyamplung. Produksine sudah dimulai bulan Maret 2012, sampai produksi awal 1.000 liter.
Untuk produksi menggunakan mesin bantuan dari Kementerian Kehutanan tahun 2009 yang sudah lama menganggur. Karena dahulu pada waktu awal-awalnya di bangun, banyak sekali palang dansejenisnya. Sehingga waktu segitu menurut Argo hanya bisa dipakai 3 bulanan, lalu rusak dan menganggur sampai akhir tahun 2011 kemarin. Memasuki tahun 2012 Pemkab Purworejo mempunyai inisiatif menghidupkan kembali produksi minyak biodiesel nyamplung, yang sudah lama mati. Pemkab Purworejo merangkul Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak, Perhutani KPH Kedu Selatan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Relung lan CV. Cahaya Khatulistiwa, untuk membetulkan mesin yang rusak tadi. “Hasilnya benar-benar bagus. Mulai Maret 2012 sudah bisa memproduksi lagi dan berhasilmenjalankan road test minyak biodiesel nyamplung, menggunakan mobil diesel standart mesin pabrik (mesin tanpa perubahan atau dimodifikasi-red), mengitari Jateng dan DIY. Jauhnya kurang lebih 750 kilometer sampai lancar dan sukses,” katanya. “Merembukkan masalah harga, minyak biodiesel nyamplung di patok harga RP 8.500,- hingga Rp 9000,- setiap liternya,” imbuhnya
Dari sumber Puslitbang Kementerian Kehutanan nyebutake, minyak biodiesel nyamplung ini, sebelumnya juga sudah pernah dicoba untuk menjalankan kendaraan pertanian, generator listrik, dan bis. Selebihnya terbukti lebih irit dari pada solar, asap yang di buang juga lebih putih. Tidak mengandung belerang, lebih halus suaranya, dan tarikan nya juga lebih ringan ketika menarik gas. Tidak seperti minyak biodiesel dari bahan lain yang harus masih dicampur dengan solar, ketika ingin digunakan. Tapi bisa digunakan secara murni, 100 persen minyak biodiesel nyamplung, tanpa campuran solar (B 100).
Dilihat dari dampak lingkungan,jelas gas buangnya ramah lingkungan. Karena bebas dari polutan (green solar). selebihnya parameter kualitas sudah selarasdengan kualifikasi biodiesel menurut SNI 04- 7182-2006, sampai rendemen konversi asam lemak bebas (FFA) jadi metal ester 97,8 persen. Diluar dari semua tadi, pengguna pengusaha yang ingin menekuni usaha ini, perlu dipahami kalau investasinya bakal break event point (BEP) dari skala minyak biodiesel 70 ton dan gliserol reget 14 ton, sampai IRR 31 persen. Terpakainya bisa balik modhal sesudah berjalan 6 tahunan, NPV = Rp 326,7 juta, B/C ratio = 2,4. Di kalangan BEP ini, diperlukan buah nyamplung paling tidak 555 ton, sama dengan 11.100 pohon nyamplung di areal 28 hektar sampai tingkat produksi 50 kilogram setiap pohon di setiap tahunnya. Pohon nyamplung tetep bisa produktif sebelum umur 50 tahun, karena dari peneliti menyebutkan sesudah umur 50 tahun pohon nyamplung kurang produktif.
Untuk mempromosikan green solar, Kementerian Kehutanan mengembangkan di Madura sampai areal tanaman 10 ribu hektar dan menanam bibit nyamplung 10 juta biji. Budidaya nyamplung juga dijalankan di Klaten, Purworejo,dan Banyuwangi. Budidaya ini dicanangkan dari tahun 2009 dan bisa muali dipanen pada tahun 2012 ini. Kementerian Kehutanan memperkirakan usaha ini bakal prospektif, melebihi kebutuhan biofuel pada tahun 2025 banyaknya 720 ribu liter bakal bisa mencukupi. Diperkirakan juga, usaha ini bakal mempunyai tenaga kerja kurang lebih 120 ribu orang. Perlu dipahami juga jika nama nyamplung ini, berbeda-beda padasetiap daerahnya. Seperti di Jawa namanya nyamplung, di Madura dan Bali namanya camplong, pada Minangkabau serta Makasar namanya punaga, di Lampung namanya penago, di Enggano namanya eyobe,di Bima namanya mantan, serta di Sangir namanya dingkalreng. (Widi Lista Fadilah)





hahaha.... :) I like IT.
BalasHapus